Pelatihan implementasi dan aplikasi GIS

Geographic information system (GIS) atau Sistem Informasi Berbasis Pemetaan dan Geografi - Genesisbengkulu.org.

Salah satu cara memerangi kelaparan

Aksi ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk memerangi kelaparan, upaya ini adalah langkah penting yang dihasilkan untuk meraih tujuan bersama - Genesisbengkulu.org.

Pembalakan hutan di wilayah konservasi

Aktivitas pembalakan hutan masih saja terus berlansung di Mukomuko, ironisnya pembalakan haram ini sekan dibiarkan - Genesisbengkulu.org.

Demo perusahaan tambang pasir besi

Tuntutan warga 4 Desa di Kecamatan Maje agar Pemkab Kaur segera mencabut izin operasional PT Selomoro Banyu Arto (SBA) terus diserukan - Genesisbengkulu.org.

Pesona alam yang indah dan mempesona

Selain air sungai yang jernih, di tempat itu juga banyak terdapat spesies ikan. Wisatawan bisa melakukan kegiatan menangkap ikan.

Perusahaan sawit bangun pembangkit biogas di Mukomuko

Perusahaan sawit bangun pembangkit biogas di Mukomuko
Kamis 1 september 2016
Mukomuko - Perusahaan perkebunan dan pengolahan minyak mentah kelapa sawit di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, tahun ini berencana membangun pembangkit listrik tenaga bio gas (PLTG) menggunakan bahan bakar cangkang kelapa sawit di wilayah setempat.

"PT Agro Muko yang ingin membangun pembangkit listrik biogas dengan kapasitas satu megawat," kata Kepala Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Kabupaten Mukomuko Asep Suherman, di Mukomuko, Kamis.

Ia mengatakan, saat ini mesin pembangkit biogas yang dibeli dari luar negeri masih dalam perjalan ke daerah itu. Kemungkinan sampai ke daerah itu sekitar dua bulan lagi.
"Kalau kapasitas mesin tersebut satu megawat, maka penambahannya sama besar dengan beban puncak pemakaian listrik di daerah itu sebesar sembilan megawat," ujarnya.

Karena, kata Asep, kapasitas beberapa mesin pembangkit listrik tenaga diesel yang disewa (rental) dan milik PLN di daerah itu hanya delapan megawat.
Ia menambahkan, selanjutnya mesin pembangkit biogas milik perusahaan sawit itu bergabung dengan mesin PLTD milik PLN.

(Antara Bengkulu)

Polisi Sita 2 Kubik Meranti

Polisi Sita 2 Kubik Meranti
Senin 29 agustus 2016

NAPAL PUTIH – Gaya lama pembalak dan pemilik kayu liar berasal dari hutan lindung (HL) sudah lebih dulu tercium polisi. Pukul 21.00 WIB Sabtu (27/8) malam, polisi mengamankan 2 kubik kayu jenis meranti merah di Sungai Napal Putih.
Kapolres BU AKBP. Andhika Vishnu, S.IK melalui 

Kapolsek Napal Putih Ipda. Todo Rio Tambunan S, SH menuturkan penangkapan berawal saat polisi mendapatkan informasi mengenai adanya kayu ilegal yang akan keluar dengan cara dihanyutkan. Setelah sekian lama menunggu, polisi melihat adanya kayu yang diikat menyerupai rakit hanyut di Sungai Napal Putih. Mendapati temuan itu, polisi menggiring kayu tersebut ke pinggir. “Setelah kita indikasikan kayu tersebut berasal dari hutan, kita amankan dan kita selidiki pemiliknya,” kata Kapolsek.

Modus menghanyutkan kayu ini sudah lama terjadi di wilayah hutan Napal Putih. Untuk  mengeluarkan kayu dari wilayah hutan, pembalak memang mengikat kayu menyerupai rakit dan menghanyutkannya di sungai. Biasanya, pemilik atau pemesan kayu tersebut sudah menunggu di pinggiran sungai.


Musim hujan di bagian hulu yang merupakan kawasan hutan dimanfaatkan pembalak untuk mengeluarkan kayu. Setelah ditebang, pembalak memotong kayu sesuai dengan ukuran dan menghanyutkannya ke aliran sungai.
(Harian Rakyat Bengkulu)


Pohon Multiguna (Multi Purpose Tree Species).
Pohon Kepayang dengan Fungsi Lindung dan Ekonomi.
Oleh Supin Yohar. (Yayasan Genesis Bengkulu).
 ......................................................................................

Pangium edule Reinw. ex Blume merupakan tumbuhan yang dikenal dengan nama Kepayang, Kluwek, Keluwek, Keluak, atau Kluak. Pohon Pangium edule Reinw. ex Blume termasuk suku Achariaceae, yang dulunya  dimasukkan dalam suku Flacourtiaceae. Tumbuhan ini berbentuk pohon yang tumbuh liar atau setengah liar, umumnya tumbuh di daerah dataran tinggi, dan dapat ditemukan tumbuh alami/liar di sekirat daerah aliran sungai. Orang Sunda menyebutnya Picung/Pucung atau Kepayang   dan di Toraja disebut Panarassan.
Kepayang termasuk  kelompok pohon besar, menyebar luas di dataran rendah sampai ke daerah perbukitan, tinggi pohon dapat mencapai  25 meter. Kayu tanaman ini juga bernilai ekonomi, dengan berat jenis 450-1000 kg/m-3   atau termasuk dalam kayu pertukangan,  dikelompok  kayu kelas II dengan keawetan sedang.
Tumbuhan Kepayang ditemui umum di hutan daeratan tinggi dan rendah di Indonesia, termasuk di pulau sumatera. Tumbuhan ini umum tumbuh di wilayah Bentang Alam Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) dan hutan penyangganya. Salah satunya di hutan negara dan hutan masyarakat di Kabupaten Mukomuko, dapat di temui di sekitar Desa Talang Buai, Sungai Ipuh, Sungai Gading Kecamatan Selagan Raya.

Pohon dengan Fungsi Konservasi

Indonesia memiliki keanekaragaman (biodiversity)  tumbuhan dan hewan yang tinggi, baik di daerah dataran rendah,  dataran tinggi  maupun  pegunungan.  Dari berbagai jenis tumbuhan yang ada, berberapa jenis memiliki nilai konservasi terutama karena memiliki fungsi ekologi yang tinggi  dibandingkan jenis lainnya.
Tumbuhan yang memiliki nilai dan fungsi ekologi antaralan memiliki perakaran yang kuat, tajuk yang rindang dan dapat bersembiosis secra mutualisme dengan tumbuhan lain di sekitarnya.  Dapat memperbaiki lingkungan khususnya iklim mikro, mampu menetralisasi polusi udara, khususnya gas beracun dan CO2, dan ditapak tumbuhnya ada  organisme tanah yang menguntungkan seperti cacing. Yulistyarini (2000) dalam tulisannya menjelaskan  tumbuhan konservasi antaralain memiliki karakteristik; pertumbuhan cepat, perakaran dalam, dapat menambah organik tanah, dapat memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air hujan yang jatuh.
Berdasarkan pengamatan di lapangan Pohon Kepayang memiliki beberapa karakteristik tumbuhan konservasi. Karakteristik Pohon Kepayang antaralain;
1.      Memiliki Perakaran kuat yang  mampu menahan tanah sehingga mengurangi kerentanan terhadap erosi dan longsor serta memperbaiki pori tanah. Dapat tumbuh baik di pinggir sungai dan daerah terjal.
2.      Perutubuhan cepat, mudah dikembangbiakan, tahan hama penyakit, bentuk pohon dan bertajuk rindang.
3.      Memiliki daur hara yang baik dan dapat menambah organik tanah. Dekomposisi serasah daun, ranting, bunga dan buah dapat terjadi dalam jangka pendek.
4.      Dapat bersimiosis mutualisme dengan tanaman lain. Dapat  tumbuh bersama dengan tanaman  lain, baik tanaman pohon maupun tumbuhan bawah di lokasi yang sama. Tidak bersifat  mendominasi, walaupun belum ada penelitian yang membuktikan  bahwa perakaran pohon Kepayang  tidak memiliki zat alilopati yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya.
5.      Menyediakan bahan organik tanah sehingga organisme tanah dapat hidup. Cukup banyak ditemukan organisme tanah pada tumpukan sarasah di bawah   pohon kepayang seperti cacing dan serangga tanah.
6.      Mampu memperbaiki iklim mikro dan dapat berfungsi baik dalam perbaikan kualitas udara.  Berdaun lebat, hijau dan tidak memiliki musim gugur daun.
Selain memiliki fungsi  ekologi dalam perbaikan lingkungan Pohon Kepayang juga memiliki nilai sosial budaya bagi masyarakat di sekitar Taman Nasional Kerinci Sebelat,  seperti di Kabupaten Merangin Propinsi Jambi, Kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkului dan Solok Selatan Propinsi Sumatera Barat. Kearifan-kearifan adat yang punya nilai konservasi antaralain; Masyarakat mengenal Pohon Kepayang sebagai tanaman nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Bahkan ada yang memiliki aturan tentang pemanfaatan dan budidaya tanaman ini.
Pohon Kepayang memiliki kedekatan emosional  karena banyak  kebutuhan hidup  yang diperoleh dari Pohon Kepayang.  Masyarakat mengenal  Kepayang menghasilkan buah yang dapat  konsumsi, daun dan kulit batang dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan ikan,  sebagai racun organik/tradisional, obat luka pada ternak dan obat untuk membuang kutu pada berberapa hewan peliharaan.
Disamping itu, walaupun kualitas kayunya tidak terlalu kuat, Pohon Kepayang juga menjadi cadangan kayu untuk pertukangan. Biasanya sebelum  memanfaatkan kayu   Kepayang  masyarakat   menyiapkan tanaman pengganti dan setelah  tanaman berumur  2-3 tahun   pohon induknya ditebang.
Dampak  lingkungan dari   Pohon Kepayang  sangat signifikan. Sebagai spesies hutan asli, Pangium edule tumbuh selaras dengan ekosistem alami di sekitar Taman Nasional Kerici Sebelat. Berkembang  di hutan matang maupun sekunder dan meningkatkan produktifitas lahan pada sistem agroforestri campuran. Mendukung masyarakat untuk meningkatkan manfaat positif  yang ekonomis    dari hasil hutan  lestari.  Hal ini tentu akan memainkan peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat komitmen masyarakat  dalam  melestarikan kawasan hutan.  Secara luas, Ekosistem buatan ini  akan menjadi  ruang bagi spesies langka dan terancam punah. Spesies seperti harimau Sumatera yang terancam punah yang bergantung pada hutan untuk kelangsungan hidup mereka dan berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.


Pohon Bernilai Ekonomi 

Dalam pola pembangunan hutan berbasis masyarakat, pemilihan jenis seperti  Kepayang (Pangium edule) sangat di minati, karena jenis ini memiliki nilai ekonomi selain konservasi atau di sebut jenis tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman multi guna. Tanaman MPTS  adalah jenis tanaman serba guna yang dapat diambil buah, bunga, kulit dan daunnya.  Berberapa  pohon dalam kelompok ini misalnya; Manggis (Garcinia mangostana), Durian (Durio zibethinus), Karet (Hevea braziliensis), Kemiri (Aleurites mollucana), Alpukat (Persea americana),   Cempedak (Arthocarpus champeden), Cengkeh (Eugenia aromatica),  Jambu mete (Anacardium occidentale), Jengkol (Pithecolobium lobatum), Kayu manis (Cinnamomum ceilanicum, Kenanga (Cananga odorata), Lengkeng (Nephelium longan), Mangga (Mangifera indica), Nangka (Arthocarpus sp), Rambutan (Nephelium lapaceum),  Sukun (Arthocarpus communis), dan lain-lain. 
Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 03 tahun 2004, dijelaskan untuk kegiatan kehutanan yang berbasis masyarakat, direkomendasikan jenis pohon yang dipilih  selain jenis  MPTS juga memperhatikan TUL (Tanaman Unggul Lokal). Tanaman lokal akan sesuai dengan kondisi alam  dan situasi sosial budaya daerah setempat.  Karena secara ekonomi tanaman diharapkan menjadi sumber produksi   untuk memenuhi kebutuhan baik kebutuhan pokok maupun sekunder, langsung ataupun tidak langsung.

Bagi masyarakat di sekitar Taman Nasional Kerinci Sebelat, buah kepayang diolah menjadi berbagai macam produk, namun umumnya diolah menjadi  minyak Kepayang atau sayur. Sedang ampas (kruwi) sisa pembuatan minyak sebagai pakan ikan atau sebagai obat nyamuk bakar.  Dan manfaat lainnya, Kulit manis batang digunakan untuk obat dalam mengeringkan luka pada manusia dan ternak, obat ini sangat diminati karena saat dioleskan tidak terasa perih atau sakit melainkan terasa dining.
Kebanyakan pemakaian Pangium edule didasarkan pada adanya asam sianida pada semua bagian tanaman mulai dari biji, buah, daun, kulit kayu atau akar. Daun segar, getah daun, tumbukan daun dan tumbukan biji digunakan sebagai antiseptik dan disinfektan untuk membersihkan luka dari luar. Biji muda dapat digunakan sebagai insektisida melawan kutu kepala, kutu ternak dan sebagai pengendali hama pertanian (serangga). Daun segar dapat digunakan dalam mengawetkan daging untuk beberapa hari, kesegaran daging tetap terjaga dan terhindar dari serangga. Secara umum berberapa bagian dari kepayang yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat antaralain :
a)      Biji yang tidak masak ditumbuk dan dihaluskan dapat digunakan untuk mengawetkan ikan supaya tetap segar, atau usus ikan dibuang dan diganti dengan tumbukan biji picung yang belum masak.
b)      Kulit kayu atau biji yang muda dapat digunakan sebagai racun ikan, sementara itu tumbukan daunnya digunakan untuk menyimpan udang.  Kelebihannya, racun kepayang mudah  dihilangkan dengan cara mencuci, merendam dan membakarnya atau dipermentasikan.
c)      Untuk obat dapat digunakan minyak kepayang yang  masih mengandung asam sianida.  
d)     Biji masak  dapat diolah sebagai kluwak, yang merupakan bumbu dapur seperti rawon.
e)      Getah kayunya kuning,  dengan bau yang tidak enak, agak keras tetapi cukup awet,  dapat digunakan untuk konstruksi bangunan.
f)       Tempurung biji Kepayang dapat digunakan sebagai bahan baku arang aktif atau pengganti kayu bakar. Diberberapa tempat tempurung biji  diolah menjadi supenir seperti gantungan kunci.
g)      Minyak kepayang yang dihasilkan dari biji telah diolah dan tidak  mengandung  asam sianida  dapat digunakan sebagai minyak sayur pengganti minyak kelapa.

Sayangnya, walaupun memiliki manfaat   banyak,  nilai ekonomi Kepayang masih diukur dari pasar lokal, belum ada upaya pengembangan untuk tingkat nasional apalagi intrenasional. Disatu sisi ini merupakan peluang dalam mengembangkannya. Manfaat yang tinggi tentu jika dipromosikan akan sangat diminati, sehingga nilai ekonominya pun meningkat.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More