Sapunggou Expedition untuk Hari Bumi

Bengkulu (ANTARA News) - Yayasan Genesis Bengkulu menggelar agenda bertema Sapunggou Expedition menjelajahi hutan dan hulu sungai di dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah Kabupaten Muko Muko, Bengkulu, untuk memperingati Hari Bumi, Jumat.

"Kami mengajak para pemuda untuk melihat langsung kawasan taman nasional yang sudah ditetapkan menjadi warisan dunia agar tumbuh kepedulian ikut melestarikan," kata Direktur Yayasan Genesis, Barlian, di Bengkulu.

Ia mengatakan, ekspedisi itu akan berlangsung selama empat hari yang melibatkan lebih dari 15 peserta melihat kekayaan flora dan fauna TNKS yang meliputi empat provinsi yaitu Bengkulu, Jambi, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan itu.

Kegiatan tersebut, menurut dia, juga dimanfaatkan untuk mengamati dari dekat keunikan flora dan fauna yang hidup di kawasan seluas 1,3 juta hektare itu, khususnya di wilayah hulu Sungai Sapunggou.

Sepanjang perjalanan kata dia, peserta akan menikmati pemandangan ratusan jenis anggrek dan bermain dengan ikan jinak di air terjun bertingkat dengan ketingian beragam, mulai dari 10 meter hingga 75 meter.

"Kami sudah melakukan survei awal sehingga memutuskan untuk membuat agenda ini, sekaligus promosi ekowisata di TNKS yang potensinya sangat bagus," ujarnya.

Uniknya dari kegiatan ini, setiap peserta yang berkomitmen menyelamatkan minimal satu jenis spesies anggrek akan dijadikan anggota Sapunggou Expedition, dan berhak memberi nama sendiri tumbuhan atau hewan temuannya.

Setelah itu, mereka akan diundang setiap tahunnya untuk menjelajah kawasan itu dengan biaya gratis.

"Perjalanan pertama ini juga tidak dibebankan biaya, semuanya ditanggung Genesis kecuali transportasi menuju Muko Muko yang dibayar sendiri oleh mereka," ujarnya.

Barlian mengatakan, Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April oleh dunia internasional diharapkan dapat meningkatnya kesadaran manusia akan kekayaan bumi dan memeliharanya sebagai kesatuan ekologis. 

Hari bumi dicanangkan oleh senator Amerika Serikat (AS), Gaylord Nelson, pada 1970 yang bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere, belahan bumi utara dan musim gugur di belahan bumi selatan. 

Didasari kegelisahan publik Amerika ketika itu terhadap alam sekitar mereka, di mana saat itu Indonesia masih merupakan kawasan hutan belantara.

Saat ini 30 tahun itu sudah berlalu, dan sekarang bumi Indonesia sudah separah kondisi Amerika pada 1970. 

Kenyataannya, manusia hampir gagal menjaga bumi karena laju kecancuran planet ini semakin parah dalam 30 tahun terakhir.

"Dalam tiga tahun terakhir ini saja Indonesia telah kehilangan hutan 35 kali luas Provinsi Bengkulu yang mencapai 1,9 juta hektare, dijadikan HPH, kebun sawit dan tambang," katanya.

Kondisi ini membuat banyak jenis flora dan fauna yang menghilang dari kehidupan manusia.

Hal itu akan dibuktikan dengan membandingkan langsung lingkungan sehari-hari dengan ekosistim sempurna hutan tropis yang tersisa di Sumatera, katanya menambahkan. (*)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2011

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More