KONFLIK DENGAN HARIMAU TINGGI DI BENGKULU

BENGKULU, - Akibat maraknya perambahan hutan lindung, frekuensi konflik manusia dengan harimau sumatera di Provinsi Bengkulu tergolong tinggi. Bahkan, konflik dengan harimau ini telah menelan satu korban jiwa warga Kabupaten Bengkulu Selatan.

Dalam sembilan bulan terakhir, tercatat sekitar 10 kasus konflik manusia dan harimau terjadi.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Amon Zamora, konflik tersebar di enam kabupaten yakni Kabupaten Mukomuko, Seluma, Bengkulu Utara, Lebong, Rejang Lebong, dan Kaur.

"Ruang gerak harimau semakin terdesak oleh perambahan hutan lindung, hutan produksi, dan hutan produksi terbatas yang berada di bawah wewenang pemerintah daerah," kata Amon, Rabu (14/9/2011).

Kasus pertama konflik dengan harimau pada tahun 2011 ini terjadi di Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Februari lalu. Harimau yang sempat memangsa 22 ekor kambing dan menyerang seorang warga, akhirnya ditangkap dan dilepas di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung.

Konflik terbaru dengan harimau berlangsung di Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, dan Kecamatan Padang Bano, Kabupaten Lebong awal September ini.

Seorang warga Padang Bano diserang harimau, serta seorang warga Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, meninggal diserang harimau di kebun kopinya di Seluma .

Saat ini BKSDA telah memasang jebakan dengan umpan kambing di Padang Bano, untuk menangkap harimau yang meresahkan warga. "Sebanyak tujuh personel yang terdiri atas empat polisi hutan dan tiga orang mitra, disiagakan di Padang Bano," kata Amon.

Sementara untuk di Seluma pemasangan kerangkeng jebakan dinilai kurang memungkinkan, karena lokasi penyerangan harimau terletak jauh di dalam hutan lindung dengan waktu tempuh sekitar delapan jam.

Meski demikian, ujar Amon, warga sekitar hutan terus diimbau untuk waspada sebab ada harimau yang telah menyerang manusia cenderung mengulanginya.

Tidak hanya harimau, kata Amon, perambahan juga mengancam keberadaan satwa lain yaitu gajah. Pada kurun Januari-Mei 2011 ini telah ditemukan tujuh gajah mati.

Menurut Amon, tingginya konflik dengan harimau tidak terjadi di hutan yang bebas dari perambahan seperti misalnya di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat di Bengkulu Utara. Sebanyak tiga ekor harimau di kawasan itu tidak pernah turun ke pemukiman dan meresahkan warga.

Koordinator PLG Seblat, Supartono, mengungapkan, PLG Seblat seluas 6.865 hektar juga sebenarnya tidak lepas dari tekanan. Saat ini koridor di HPT Lebong Kandis yang menghubungkan PLG Seblat dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) telah dirambah sekitar 500 keluarga. Bahkan, kini mereka telah berkebun kelapa sawit.

Padahal, hutan itu menjadi jalur penghubung yang dipakai gajah untuk hilir mudik PLG Seblat dan TNKS.

Oleh karena itu, BKSDA Bengkulu berencana mengajukan usulan program penyelamatan satwa kepada pemerintah pusat agar upaya perlindungan satwa bisa dilakukan lebih baik lagi.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/09/14/21084889/Konflik.dengan.Harimau.Tinggi.

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More