Tangisan Nelayan Pesisir Barat Bengkulu


          Pesisir Barat bengkulu
Keberadaan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang akhir akhir ini marak terdengar karena konflik dengan masyarakat yang  agraris di daerah pertanian dan perkebunan, ternyata juga mulai mengganggu kehidupan masayrakat yang tidak pernah bersentuhan dengan aktivitas ekonomi dari pengolahan tanah. Mereka yang sekarang mulai terusik ini adalah masayrakat nelayan Bengkulu yang mulai mengalami penurunan drastis tangkapan ikan (pengakuan nelayan pesisir bengkulu).  
Berdasarkan riset pakta lapangan“ Genesis bersama Walhi bengkulu’’ 2006 – 2011. Penurunan tangkapan nelayan ini dikarenakan keadaan laut yang tidak kondusif lagi untuk perkembang biakan ikan akibat maraknya pembuangan limbah pabrik CPO dan batu bara di sepanajang pesisir utara Bengkulu. Diduga keras kekeruhan laut, suspense limbah pabrik pengolahan TBS sawit dan matrial beradikal bebas dari pertambangan batu bara telah menghambat pertumbuhan dan daerah sebaran ikan di lepas pantai bengkulu. Sentara pemijahan ikan di daerah rawa dan mangrove juga mulai tidak berfungsi secara ekologis, dimana hutan hutan mangrove di kawasan muara marak disulap menjadi pelabuhan loading area batu bara seperti halnya yang terjadi di pesisir ketahun dan putri hijau.
Selain perubaha ekonomi, tekanan juga dirasakan oleh penduduk yang bermukim di kawasan pantai akibat tingginya perubahan konstruksi dan ekologi pantai., Dimana pemukiman penduduk semakin terhimpit kedaratan akibat maraknya pertambangan galian C dan tambang pasir besi.
Perubahan struktur ekologi kawasan pesisir akhr akhir ini dipercaya menjadi salah satu paktor pendukung cepatnya lacu pengurangan daratan provinsi Bengkulu, dimana tercatat sejak tahun 2006 sampai dengan 2011, laju pengurangan daratan pesisir Bengkulu mencapai 1,5 KM pertahun. Dimana garis pasang surut dibeberapa titik sudah mencapai jalan lintas barat sumatera.
Tingginya tekanan ekonomi dan ruang eksistensi pemkiman kawsan pesisir diprediksi dikemudian hari akan menjadi salah satu ancaman besar dikawasan hutan dataran tinggi Bengkulu dan sekitarnya. Dimana kecendrungan perubahan budaya ekonomi dari nelayan ke agraris cukup tinggi terjadi di Bengkulu, sedangkan kawasan budidaya di sebngkulu seluas 540 ribu hektar sudah habis dikuasai oleh sector pertambangan dan perkebunan besar. Konseksuensinya adalah kawasan hutan di Bengkulu akan menjadi daerah sasaran pembukaan perkebunan dan bercocok tanam oleh penduduk.
Menghadapi kondisi ini diharapkan pemerintah daerah Bengkulu untuk segera menahan laju pengurangan pesisir barat sumatera, dan menertibkan perusahaan pembuang limbah CPO dan matrial batu bara di pesisir utara Bengkulu.

1 comments:

mantap infonya gan...
kunjungi balek ya, http://blog.ulayat.or.id

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More