Kawasan hutan sudah mengancam masyarakat

BENGKULU, KOMPAS — Sebanyak 80 persen dari sekitar 80.000 hektar hutan di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, rusak. Lahan hutan itu dirambah dan dibuka jadi permukiman dan kebun kelapa sawit.

Kawasan hutan di Kabupaten Mukomuko, yakni Hutan Produksi Terbatas (HPT) Air Ipuh 1 (20.544 hektar), HPT Air Ipuh 2 register 65 (20.607 hektar), HPT Air Manjunto register 62 (28.763 hektar), dan HPT Lebong Kandis (4.102 hektar). Ada pula Hutan Produksi (HP) Air Dikit (2.730 hektar), HP Air Rami register 68 (4.192 hektar), dan HP Air Teramang register 66 (4.851 hektar).

Koordinator Generasi Sungai Ipuh Sekitarnya (Genensis), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan di Mukomuko, Barlian, Rabu (16/10), mengatakan, di lapangan, kondisi 20 persen hutan yang tersisa pun hanya berupa semak belukar. Tidak ada lagi tegakan yang besar dan rapat. ”Sudah bukan hutan- hutan amat,” ujarnya.

Kerusakan hutan ini, menurut Barlian, telah terjadi sebelum Mukomuko menjadi daerah otonom pada tahun 2003. Ketidaktegasan pengelola hutan semakin membuat perambahan kian menjadi hingga kini.

Hutan kemudian dikuasai oleh orang per orang. Bahkan, ada satu orang yang menguasai puluhan hingga ratusan hektar lahan hutan. Meski dibawa ke pengadilan, penanganan kasus kepemilikan hutan ini jalan di tempat.

Barlian mengatakan, perambah hutan Mukomuko ada yang berasal dari luar Mukomuko dan ada pula warga Mukomuko, tetapi berbeda kecamatan dengan hutan yang dirambah.

Barlian mengusulkan, hutan yang telanjur dirambah agar dikembalikan kepada masyarakat melalui mekanisme yang ada, seperti program Hutan Kemasyarakatan (HKM), Hutan Desa, atau Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Dengan demikian, masyarakat tidak kehilangan ruang kelolanya dan posisinya dilindungi peraturan.

Kepala Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Kabupaten Mukomuko Aman Jaya mengatakan, perambah memang akan dirangkul untuk mengelola hutan bersama. Aman menilai, program yang pas untuk ini ialah HTR. Dengan HTR, perambah yang telah membuka kebun sawit diharuskan menanam tanaman keras di sela-sela pohon sawitnya. Harapannya, dalam jangka panjang fungsi hutan kembali pulih seiring dengan menurunnya produktivitas tanaman sawit.

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More