Polisi Selidiki Bos Lima Pembalak Hutan

MUKOMUKO - Penyidikan terhadap 5 pelaku pembalakan hutan atau illegal logging menemukan fakta baru. Informasi yang diperoleh, 5 pembalak hutan itu hanya sebagai pekerja. Polisi mendapatkan informasi 5 pembalak hutan itu hanya sebagai buruh upahan untuk mencari kayu.
Saat ini polisi tengah menyusuri siapa bos kelima warga yang sudah diamankan di Mapolres Mukomuko sejak Jumat (25/10). Kapolres Mukomuko AKBP Wisnu Widarto, S.IK melalui Kasat Reskrim Iptu Douglas Mahendrajaya, SH, S.IK mengatakan kelima pelaku itu informasinya ada yang menyuruh mereka bekerja untuk membalak hutan. “Nah siapa yang menyuruh itu kita akan selidiki. Kami belum bisa sampaikan siapa orangnya,” kata Mahendra.

Dia menjelaskan, 5 pelaku yakni RK (30) Rf (47), Kt (25), Rt (20) dan Al (19) merupakan pemain lama. Mencari kayu di hutan sudah menjadi profesi kelima warga itu. Bahkan mereka sudah hafal betul lokasi hutan yang banyak kayunya yang bisa ditebang. Seperti lokasi penangkapan 5 tersangka itu, berada di kawasan hutan yang sangat jauh dari pemukiman warga. Lima pelaku bisa beraktivitas dengan baik menebang hutan tanpa khawatir tersesat. Karena memang sudah mengenal lokasi itu dengan baik. “Apalagi mereka sampai menginap di sana,” kata Mahendra.

Ia mengatakan separuh barang bukti sudah berhasil dievakuasi, kemarin (26/10). Masih ada beberapa kubik yang tersisa karena beratnya medan yang harus ditempuh untuk membawa kayu hasil penjarahan itu sehingga ada yang belum terangkut. Menurut Mahendra, polisi akan berusaha untuk mengeluarkan barang bukti itu. Barang bukti yang telah sampai dipolres akan dihitung jumlahnya beserta ukurannya. Nanti akan ada ahli yang akan mendefinisikan kayu yang disita itu jenisnya apa. “Kita akan berusaha untuk menelusuri orang yang menyuruh 5 pembalak itu bekerja,” katanya.
Dijelaskannya, kelima pelaku bekerja dengan upah Rp 150 ribu per kubik kayu yang berhasil digesek. Itu upah bersih yang mereka terima untuk membalak hutan dengan cara mengambil kayu di  HPT Air Manjuto.
Di bagian lain, dia mengimbau warga untuk tidak mengambil kayu atau membuat kebun di kawasan hutan.Warga diminta turut berperan dalam menjaga kawasan hutan sehingga tidak dirambah dan dirusak. Jika menemukan warga menggarap hutan, Mahendra meminta kesadaran warga untuk melaporkannya ke polisi. “Hutan itu kepentingan bersama. Jadi harus dijaga bersama,” ujarnya.

Kemarin,  Jumat (25/10) anggota Polres MM melakukan giat operasi  Wanalaga Nala 2013. Dalam penertiban di HPT Air Manjuto, polisi berhasil menangkap 5 pembalak yang tengah menebang kayu di hutan kawasan itu. Selain para pelaku, juga ditemukan barang bukti berupa 4-6 kubik kayu olahan beragam jenis dan ukuran, beberapa jerigen minyak campuran sebagai bahan bakar chainsaw atau mesin potong kayu. Kelima pembalak itu sekarang diancam dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman pidana 5 tahun penjara.(RB - 27/10/13)

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More