Hutan Terakhir.....!!!

Bengkulu (Antara) - Yayasan Genesis Bengkulu menggagas pengelolaan hutan kemitraan antara masyarakat dengan pemerintah daerah melalui konsep hutan berbasis kemasyarakatan untuk menekan laju kerusakan hutan dan mencegah perambahan baru.

"Model ini kami tawarkan kepada Pemerintah Kabupaten Mukomuko sebagai percontohan, yaitu pengelolaan hutan berbasis masyarakat," kata Direktur Genesis Bengkulu Barlian di Bengkulu, Sabtu.

Ia mengatakan pemberian akses pengelolaan hutan kepada masyarakat dilaksanakan melalui skema hutan kemasyarakatan (HKm), hutan desa, dan kemitraan. 

Selain ketiga skema tersebut, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 6/2007 tentang Tata Hutan, Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, pengelolaan hutan berbasis masyarakat juga dapat dilakukan dengan skema hutan tanaman rakyat (HTR). 

Seluruh skema pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam kebijakan Kementerian Kehutanan saat ini telah memberikan kejelasan akses dalam bentuk izin pemanfaatan dalam jangka waktu yang cukup panjang yakni 35--60 tahun. 

Skema ini akan memberikan jaminan hak kelola yang berpotensi untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, khususnya masyarakat yang hidupnya tergantung pada sumberdaya hutan.

Ia mengatakan model percontohan tersebut yakni di kawasan Hutan Produksi Airrami, Kecamatan Malindeman, Kabupaten Mukomuko.

Terdapat 1.000 hektare kawasan hutan yang sudah dibuka dan dikuasai oleh sebanyak 160 kepala keluarga di daerah itu.

"Awalnya hutan yang dirambah ditanami sawit, tapi sekarang sudah putar haluan menjadi tanaman keras seperti durian, petai, karet dan jenis kayu lokal," ujarnya.

Saat ini, kata dia, hutan tersebut sudah terlanjur digarap masyarakat dan diusulkan menjadi sasaran kawasan pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Model itu, menurut Barlian, menjadi salah satu solusi menghentikan pembukaan baru di kawasan hutan seluas 14.263 hektare itu.

"Masyarakat yang membuka hutan ini juga tidak hanya dari Desa Lubuktalang, tapi ada yang dari luar desa, bahkan luar kecamatan," ucapnya.

Genesis Bengkulu, lanjutnya, akan mendampingi masyarakat untuk mengupayakan model pengelolaan hutan berbasis masyarakat sekaligus solusi menghentikan pembukaan baru.

Dukungan konkrit dari para pihak seperti Dinas Kehutanan dan Kantor Pemangku Hutan Produksi (KPHP) Mukomuko sangat menentukan gagasan tersebut.

"Dengan kemitraan ini masyarakat juga siap menjaga hutan yang tersisa dari perambahan baru," ujarnya.

Barlian mengatakan sebanyak 70 persen masyarakat di Desa Lubuktalang tersebut menjadi butuh lepas di perkebunan sawit di sektiar desa mereka yakni PT Agromuko, PT Alno dan PT Darya Dharma Pratama (DDP). (Antara)

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More