TNKS Usulan Jalan Tembus Berulang kali Ditolak

JAMBI  -  Kepentingan publik diduga melatarbelakangi usulan pembangunan jalan menembus zona inti Taman Nasional Kerinci Seblat. Meskipun Kementerian Kehutanan berulang kalo menolak usulan itu, pemerintah daerah mengajukan usulan itu kembali.

Pemerintah Kabupaten Kerinci pertama kali mengajukan pembangunan jalan Lempur (Kerinci) - S.Ipuh (Mukomuko) sejauh 22 kilometer tahun 2005, Menteri Kehutanan menolak, Pemkab Kerinci dan Pemerintah Provinsi Jambi kembali mengusulkan pembangunan jalan menembus Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) pada 2007 dan 2011. Usulan bertambah untuk pembangunan tiga jalur menembus TNKS, yaitu Lempur-Sungai Ipuh,Pauh Tinggi (Kerinci)-Sungai Kuning (Kabupaten Bungo) sejauh 41 kilometer, dan Lempur Mudik (Kerinci)-Dusun Tuo (Kabupaten Merangin) sjauh 23 kilometer.

Tokoh adat Kerinci, Musnardi Moenir, mengatakan, usul pembangunan jalan mencuat setiap mendekati Pilkada Kerinci dan Jambi atau pemilu. Ada calon Kepala Daerah dan calon Legislator yang berjanji kepada masyarakat membuka akses TNKS. "Targetnya memperoleh dukungan suara,"ujarnya, Senin (24/2).

Musnardi menduga ada kepentingan politik pada pertemuan Bupati Kerinci Murasman, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, dan Ketua DPR Marzuki Alie di Jakarta dua minggu lalu. Marzuki mendukung izin pembukaan jalan tembus di TNKS dan penurunan status Taman Nasional menjadi Hutan Lindung.

"Potensi suara dari daerah itu besar. Untuk warga sekitar jalur Lempur-Sungai Ipuh, ada sekitar 3.000 suara yang bisa dimanfaatkan calon kepala daerah atau calon legislator," ujar Musnardi. Berdasarkan data Kompas, usulan jalan menembus TNKS itu mencapai 32 titik di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Sumatera Barat.

Koordinator jaringan advokasi Konservasi Alam Raya Supintri Yohar mengatakan, pengusulan jalan menembus TNKS sudah  muncul sejak tahun 2005, mulai dari untuk tujuan ekonomi hingga budaya. Usulan terakhir pada 2011, jalan yang sama diusulkan untuk jalur evakuasi.

Supintri menjelaskan, tahun 2009 di Kabupaten Lebong dan Mukomuko, membuka jalan tembus ke Kabupaten tetangga menjadi janji yang diharapkan mendatangkan suara dari warga pinggir dan dalam hutan. Pembukaan jalan menjadi pemikat.

TNKS merupakan hutan hujan dataran tinggi Sumatera yang dinyatakan sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Di hutan seluas 1,3 juta hektar itu masih ada gajah, harimau, dan binatang endemik lain serta daerah aliran sungai (DAS).

                                                       Sumber : Kompas, Selasa 25 Februari 2014

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More