Abrasi Ancam Lahan Pangan

Bengkulu - Abrasi yang melanda sejumlah sungai di kabupaten dan kota, turut mengurangi areal lahan pangan di Provinsi Bengkulu.

"Abrasi sungai mendominasi, kalau pantai hanya sedikit di Kabupaten Kaur," kata Direktur Yayasan Genesis Bengkulu, Barlian di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan selain alih fungsi sawah beririgasi dan tadah hujan menjadi kebun sawit, abrasi sungai juga mengancam lahan pangan di daerah itu.

Kondisi terparah kata dia antara lain abrasi Sungai Kinal di Kabupaten Kaur yang menghilangkan 100 hektare.

Selain itu abrasi Sungai Selagan Raya di Kabupaten Mukomuko, Sungai Kedurang, Bengkulu Selatan, Sungai Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, Sungai Musi di Kabupaten Kepahiang dan tiga sungai di Kabupaten Lebong yakni Sungai Kotok, hulu Sungai Ketahun dan Air Santan.

Ia mengatakan abrasi atau erosi sungai diakibatkan berbagai aktivitas eksploitatif antara lain kerusakan hutan, pembukaan tambang batu bara dan galian C dan eksplotasi sempadan sungai.

Kondisi ini menurutnya sangat merugikan masyarakat sekaligus mengancam keberlanjutan lahan pangan di daerah itu. Perlindungan daerah sempadan sungai menurutnya selama ini cenderung diabaikan.

Selain abrasi menurut Barlian, dari kajian di 10 kabupaten dan kota, ketersediaan air juga mengancam keberlanjutan produksi pangan di daerah itu.

"Ada jaringan irigasi yang sangat bagus tapi air tidak mencukupi, seperti di Desa Airbuluh Kabupaten Mukomuko," ujarnya.

Alih fungsi lahan pangan menjadi permukiman yang terjadi di Kota Bengkulu dan Kabupaten Lebong juga turut mengancam program peningkatan produksi padi.

Barlian mengatakan komitmen pemerintah untuk melindungi lahan pangan masih lemah. Penerapan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menurut dia belum berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu yang dirilis Maret 2015, produksi padi di daerah itu pada 2014 sebanyak 593.195 ton atau turun 4,76 persen dari produksi padi 2013.

"Berdasarkan angka sementara, produksi padi Provinsi Bengkulu turun 4,76 persen karena berkurangnya areal panen seluas 108 hektare," kata Kepala Badan Psuat Statistik Provinsi Bengkulu Dodi Herlando.

Ia mengatakan selain akibat penurunan luas tanam padi, penurunan produksi padi 2014 juga disebabkan produktivitas turun sebanyak 1,98 kuintal per hektare atau 2,89 persen.( antara)

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More