Kehadiran Tambang Menuju Kemiskinan

Genesis Bengkulu.Pertambangan sebagai usaha peningkatan perekonomian masyarakat maupun daerah ternyata hanya kamuflase saja. Tak banyak sumbangsih yang diberikan oleh kegiatan tersebut. Buktinya rakyat masih melarat, pembangunan tidak juga signifikan, bahkan pemerintah harus mengeluarkan dana yang besar untuk perbaikan-perbaikan infrastruktur akibat aktivitas pertambangan tersebut, contoh nyata jalan.

“Dimana dan kapan pertambangan masuk, disitu lah sumber kemiskinan” pernyataan ini semakin menguatkan bahwa selama ini hanya kamuflase-kamuflase lah yang di bangun. Wajah yang tak muda itu dengan penuh ketegasan mengucapkan nya. Walau usia tak lagi muda, namun jiwa tetaplah muda. Dia adalah Ichwan Yunus, Bupati Mukomuko. Cukup panjang waktu kami ( tiem Genesis Bengkulu ) bercerita benang merahnya hanya untuk bagaimana terdapat keseimbangan antara manusia dan alam. Jumat (12/06/2015). Dia buktikan dengan mencabut 11 izin tambang sekaligus. Ini cukup menarik karena pencabutan ini di lakukan saat-saat dia tengah bertarung untuk merebutkan kursi no satu di provinsi ini. Andai semua pihak terkhusus nya para pemimpin bisa melihat ini sebagai hal yang penting, maka takan ada eksploitasi. Mudah-mudahan ini benar adanya, bukan juga sebentuk kamuflase.

Tambang sumber kemiskinan agaknya tepat adanya. Buktinya saja daerah mana yang menjadi konsesi tambang yang lebih terlihat maju di banding dengan daerah yang tidak menjadi konsesi pertambangan?

Taba penanjung merupakan kecamatan yang terdapat di kabupaten Bengkulu Tengah dan juga daerah yang sejak sekitar tahun 80 an telah menjadi daerah konsesi pertambangan. Hari ini kita bisa lihat bagaimana keadaan masyarakat di kabupaten tersebut, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun infrastruktur yang ada. Kabupeten Bengkulu Tengah merupakan kabupaten dengan kondisi jalan yang buruk. Terdapat 24 IUP pertambangan di kabupaten ini. Jika pertambangan sebagai sumber peningkatan perekonomian seharusnya kabupaten ini sudah maju, namun faktanya dapat kita lihat     bersamajalan 2, Perusahaan pertambangan juga mengklaim kehadiran mereka akan berdampak pada perluasan lapangan pekerjaan, nyatanya hanya beberapa orang masyarakat saja yang dilibatkan menjadi pekerja, itu pun sebagai buruh kasar. Selebihnya diisi oleh orang-orang berbangsa asing. Kemudian, mereka juga mengklaim bahwa tambang memberikan kontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah, namun kami coba membuka kembali kliping-kliping media yang telah kami kumpulkan bersama terkait permasalahan pertambangan di provinsi Bengkulu. “Pendapatan Asli Daerah (PAD) nihil dari sektor pertambangan batubara, Bengkulu dapat jalan rusak, lingkungan hancur” kata salah satu anggota DPRD Provinsi, Edi Sunandar. (Kupasbengkulu.com, 16 Januari 2015). Dia juga mengatakan bahwa daerah tak mendapatkan keuntungan langsung, namun sumbangan itu diberikan kepada pihak ketiga. Siapakah pihak ketiga tersebut?

Bukan kah pernyataan-pernyataan seperti itu sangat mempertegas bahwa kita juga tetap miskin walau terdapat sebanyak 43 IUP Operasi Produksi pertambangan di provinsi ini. Seharusnya ini juga bisa menjadi perhatian serta pertimbangan bagi pengambil kebijakan untuk bisa mencabut 66 IUP Eksplorasi yang saat ini sedang berlangsung.

Bicara soal tambang, tak habis-habisnya kita bicara soal kerugian. Menurut data tim korsup KPK Anti Mafia Tambang (Genesis, Walhi, Akar) provinsi Bengkulu mengalami kerugian land rend sebesar IDR 25,054,970,490.00. Selain itu ada kerugian yang besar yang diterima masyarakat Bengkulu yaitu diserobotnya kawasan hutan lindung dan konservasi seluas 118.699.72 ha tanpa memiliki izin pinjam pakai sesuai dengan UU 41 tahun 2009. Berapa kerugian perekonomian negara yang harus ditanggung.

Belum lagi masalah lobang-lobang tambang yang masih mengangah akibat tidak adanya kegiatan reklamasi. Seharusnya lahan bekas konsesi pertambangn itu dapat di kelolah kembali nyata nya harus terbengkalai begitu saja. Lobang-lobang ngangahan yang di penuhi air beracun itu di klaim sebagai tempat wisata. Jika pemerintah ingin menimbul kembali galian-galian tersebut berapa lagi biaya yang harus di keluarkan.

Hal-hal diatas membuktikan bahwa      sesungguh nya pertambangan tidak berdampak bagi perekonomian daerah dan masyarakat sekitarnya, adanya kerugian-kerugian yang di tanggung. Pemerintah dapat berfikir ulang untuk 66 IUP Eksplorasi yang sedang berjalan.

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More