MENILIK POTENSI AGROFORESTRI DESA TANJUNG AUR
Catatan perjalanan fasilitasi perhutanan sosial.
Bengkulu, Agustus  2016


Menilik Potensi Agroforestri Desa Tanjung Aur dalam Kawasan Hutan Produksi Bukit Kumbang.
Matahari semakin meninggi, waktu kira-kira pukul 11.00 wib kami mulai perjalanan menuju desa devinitif dalam kawasan hutan. Desa Tanjung Aur, berada di dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Kumbang.
Dua kilometer kami pacu kendaraan roda dua, jalan yang tadinya aspal mulus berubah menjadi berbatuan dan lumpur. Hujan semalam menjadikan jalan tanah dan berbatu menjadi sangat licin. 
“Lahan prokimal milik angkatan laut. Dilarang menebang, menanam didalam kawasan ini” plang yang terpampang cukup besar. Seluas 3200 ha lahan milik angkatan laut. Kata beberapa orang yang bekerja di angkatan Laut kabupaten kaur ini, lahan prokimal adalah lahan yang akan difungsikan untuk pemukiman para pensiunan angkatan laut.
Jalan semakin berlumpur, motor kami tak seperti motor masyarakat setempat yang sudah di modif (sering disebut krandong) dan memakai rantai. Satu, dua kali kami harus turun dan berjalan beriringan bersama motor.
Pemandangan dihiasi dengan tegakan pohon yang masih cukup terjaga serta hilir mudik masyarakat yang membawa karung-karung kopinya.
Setelah 14 km dilalui, kami bisa bercengkrama bersama masyarakat desa Tanjung Aur. Sudah 20 tahun mereka hidup di dalam kawasan hutan.
Kami mengelilingi desa itu, dan terkesima melihat mereka menjaga hutan untuk tetap bertahan hidup. Hampir semua yang mereka tanam adalah tanaman hutan yang ditumpang sarikan dengan tanaman kopi, lada, cengkeh, dan merica.
Secara teori masyarakat mungkin tidak tahu cara menjaga kawasan hutan dengan sistem agroforestri. Namun faktanya mereka telah bertanggungjawab atas fungsi kawasan hutan yang mereka huni.
Secara keseluruhan ada banyak jenis tunaman yang kami lihat seperti ; damar (Agathis dammara), karet (Hevea brasiliensis), pala (Myristica fragrans), dadap (Erythrina variegata), cengkeh (Syzygium aromaticum), durian (Durio zibethinus), kemiri (Aleurites moluccanus), pulai (Alstonia scholaris), laban (Vitex pubescen), sengon (Albizia chinensis), sungkai (Peronema canescens), kayu afrika (Maesopsis emini), kayu manis (Cinnamomum verum), lada (Piper nigrum), sukun (Artocarpus altilis), markisa (Passiflora edulis), manggis (Garcinia mangostana), pinang (Areca catechu), jambu mede (Anacardium occidentale), petai (Parkia speciosa), pohon kapuk (Ceiba pentandra L), melinjo (Gnetum gnemon), cabe jawa (Piper longum), jambu (Psidium guajava), nangka (Artocarpus heterophyllus), jeruk (Citrus), kedondong (Spondias dulcis), dan alpukat (Persea americana).
Rata-rata masyarakat desa Tanjung Aur menghasilkan tanaman kopi 2 ton per tahun. Maka dalam satu tahun, desa yang dihuni oleh 322 KK ini dapat menghasilkan 644 ton kopi. Kemudian menghasilkan merica rata-rata 5-8 kuintal per tahun.
Masyarakat tidak memilih menanam sawit karena menanam tanaman selain sawit lebih beruntung kata mereka. Mereka juga beberapa kali ditawari untuk memplasmakan kebun mereka ke Perusahan perkebunan sawit, Ciptamas Bumi Selaras dan mereka tolak.

Masyarakat butuh pengakuan dari negara untuk mengelolah ruang kelola mereka. Kejar-kejaran dengan polisi kehutanan bukan lah hal yang asik. Itu mengancam, kata mereka. 

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More